Jumat, 09 Maret 2012

EKSPRESI CINTA KEPADA RASULULLAH SAW


Oleh : Anita, S.Pd.I
Nabi Muhammad SAW adalah rasul terakhir yang diutus oleh Allah di muka bumi. Rasulullah memiliki akhlak yang mulia.Sesuai dengan firman Allah “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Beliau bukanlah sosok yang yang berwajah sangar dan berwatak keras. Akan tetapi beliau adalah sosok manusia yang mudah memaafkan, penuh toleransi, lembut dan penyayang terhadap umatnya.
Rasulullah SAW selalu memerintahkan kebaikan kepada manusia dan beliau adalah orang yang pertama yang melakukannya.Beliau mencegah manusia dari kejahatan,maka beliau adalah orang yang pertama menjauhinya. Ini adalah kesempurnaan akhlak beliau. Tidak mengherankan karena akhlak beliau akhlak adalah Al-qur’an. Oleh karena itu kita sebagai umatnya hendaknya mencintai Rasulullah melebihi cinta kita pada diri sendiri. Cinta pada diri Rasulullah tidak hanya diucapkan dengan lisan tetapi hendaknya kita terapkan melalui amal perbuatan kita. 
Bagi orang beriman hadirnya beliau mengusung risalah da’wah adalah kenikmatan dan karunia yang amat besar dari Allah, sebab beliau mengajarkan nilai-nilai kebenaran Al-qu’an, mensucikan jiwa mereka dengan akhlak terpuji serta membuat mereka mengenal berbagai aturan kehidupan yang indah dan lurus. Pengenalan yang mendalam terhadap Rasulullah SAW dan ajaran beliau akan melahirkan cinta mendalam kepada beliau. Dan ini akan menjadi pintu gerbang seorang muslim merasakan manisnya keimanan. Sebab ketika kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada apapun mereka akan merasakan halawatul iman (manisnya iman).
A.    KIAT MENUMBUHKAN CINTA KEPADA RASULULLAH SAW
Sosok Rasulullah memang mendapatkan tempat dihati setiap muslim. Hanya saja diera modern ini seringkali. Secara verbalisasi seorang yang memiliki rasa cinta akan terus menyebut-nyebut apa yang dicintainya.Contoh orang cinta sepak bola tentu akan mendiskusikan tentang sepak bola. Demikian pula bila kita ingin menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, maka kita perlu mengingat dan menyebut nama beliau dalam shalawat. Bahkan s ecara syar’I dalam Alqur’an dinyatakan bahhwa”Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Dari ayat ini Allah telah menganjurkan kepada manusia untuk bershalawat dan menyampaikan salam kesejahteraan kepada Nabi Muhammad SAW. Menyampaikan shaalawat kepada Nabi pada hakikatnya tidak akan mengurangi kemuliaan beliau, karena sesungguhnya kemuliaan yang dimiliki Nabi adalah sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Jadi shalawat kepada Nabi pada hakikatnya adalah kemuliaan Allah. Barang siapa bershalawat dan memberikan cintanya kepada Nabi melebihi cintanya terhadap diri sendiri maka Allah akan mengangkat derajat kemuliaan ketempat yang setinggi-tingginya dan Allah akan menjatuhkan kemuliaan serendah-rendahnya kepada siapa saja yang tidak mau.
Internalisasi memiliki maqam(kedudukan) yang lebih tinggi dari verbalisasi karena sudah meluas pada aspek kognitif dan afektif. Menurut Herbert C Kelman, seorang psikolog social memberikan uraian bahwa internalisasi mempunyai pengaruh yang lebih terhadap perilaku karena sudah mendapat pengabsahan secara rasional. Umat Islam akan diantarkan pada bobot  cinta yang paripurna manakala berupaya mempelajari dan mengkaji lembaran sejarah Rasulullah (sirah) karena disana banyak mutiara yang belum terangkat.
Identifikasi merupakan penyatuan pribadi sesorang dengan pribadi yang dicintai. Orang meneladani Rasulullah karena mereka membentuk identitas dirinya dengan  menisbahkan kepadanya. Karena pengetahuan kognitifnya membenarkan pada pribadi  beliau yang agung.Inillah makna ucapan Rasulullah “anta ma’an man ahabta(menyatukan akhlak Rasulullah dalam kepribadian dirinya”. Beruntunglah orang – orang yang akhlaknya ddidekatkan pada akhlak Rasulullah karena tarikan cinta kepadanya.”Barang siapa menghidupkan sunahku pertanda dia cinta kepadaku dan siapa saja yang mencintaiku dia akan bersamaku disurga.”(Al Hadist)
B. BUKTI RASA CINTA
Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah ke dunia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi tidak hanya manusia yang mendapat rahmat itu. Dalam hadist disebutkan bahwa untapun  mendapatkan rahmat dari Nabi Muhammad SAW. Unta tersebut berbicara kepada Nabi supaya dirinya dibeli saja dari tuannya yang zalim. Mendengar keluhan itu Nabi menyanggupi membelinya. Ketika menjadi tunggangan Nabi, unta itu tidak usah diperintah sudah menyediakan dirinya untuk melayani Nabi.
Begitu juga batang kayu kurma yang menjadi sandaran Nabi ketika berada dimimbar. Ketika akan diganti karena sudah rapuh, kayu itupun menangis. Ia tidak ridha untuk diganti, karena baginya sangatlah bersyukur dan nikmat dapat melayani Nabi diakhirat nanti, maksudnya masuk surga bersama beliau.
Kisah lainnya, daging kambing yang sudah masak dapat berbicara kepada Nabi bahwa didalam dirinya ada racun yang sengaja dimasukkan oranng kafir untuk membunuhnya. Meski Nabi tahu bahwa daging itu beracun, tetap saja beliau memakannya, sebab beliau khawatir daging tersebut akan dimakan sahabat sehingga dapat membahayakan , lebih baik Nabi sendiri yang menanggungnya.Kalau tidak ada ketentuan ini hanya khusus untuk Nabi, banyak kaum  muslimin bersedia makan daging beracun demi Rasulullah. Ini menandakan besarnya cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW, begitu juga dengan cinta Nabi kepada umatnya. 
Ungkapan cinta kepada Nabi juga diekspresikan oleh umat Islam. Misalnya pada bulam Rabiul Awal umat Islam khususnya di Negara Indonesia merayakan peringatan Maulud Nabi.Mereka mendasarkan niatnya bahwa itu dilakukan demi cinta kepada Rasulullah SAW.Peringatan ini merupakan tradisi yang berkembang dimasyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat.Secara subtansi peringatan tersebut merupakan ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. 
* Penulis adalah guru di MI Mambaul Ulum

0 komentar:

Poskan Komentar